Oleh: fyskyut | 25 Juli 2010

Ayam ato Bebek??

Tanpa disadari ternyata masalah yang kecil bisa menghancurkan sebuah hubungan yg telah dijalin…
Cerita ini dikutip dari buku ‘Si cacing & kotoran kesayangannya’ karangan ‘Ajahn Brahm’

Sepasang pengantin baru sedang berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim malam yang
indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan ketika mereka mendengar
suara dikejauhan, “Kuek!kuek!”

“Dengar”, kata si istri, “Itu pasti suara ayam.”
“Bukan, bukan. Itu suara bebek,” kata si suami.
“Nggak,aku yakin itu ayam”,si istri bersikeras.
“Gak mungkin, suara ayam itu ‘kukuruyuuuuk’!,bebek itu ‘kuek!keuk!’ Itu bebek,sayang,” kata si suami dengan
disertai gejala-gejala awal kejengkelan.
“Kuek!kuek!” terdengar lagi.
“Nah,tuh! Itu suara bebek,” kata si suami.
“Bukan,sayaaang…Itu ayam!Aku yakin betul!” seru si istri sambil menghentakkan kaki.
“Dengar ya! Itu a…da…lah…be…bek, B-E-B-E-K. Bebek!Tahuuu?!” si suami berkata dengan gusar.
“Tapi itu ayam!” masih saja si istri bersikeras.
“Itu jelas-jelas bue…bek!Kamu ini!…kamu ini…!”

Terdengar lagi suara, “Kuek!kuek!” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.
Si istri sudah hampir menangis, “Tapi itu ayaam….”
Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, teringat kenapa dia menikahinya.
Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku,sayaang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”
“Terima kasih, sayang.” kata si istri sambil menggenggam tangan suami nya.

“Kuek!kuek!” terdengarlagi suara di hutan,mengiringi mereka berjalan bersama dalam Cinta.

Hikmah dari cerita diatas adalah, si suami akhirnya menyadari siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek?
yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam
yang indah itu. Berapa banyak sebuah hubungan hancur hanya gara-gara persoalan sepele? berapa banyak
sebuah hubungan hancur hanya gara bersikeras menyatakan ‘ayam’ ato ‘bebek’. Coba bayangkan kalau si istri
ato si suami tetap bersikeras pada pernyataan mereka masing-masing, mungkin mereka akan pulang dengan perasaan
kesal atau marah dan melewatkan malam romatis yang telah mereka rencanakan.

Siapun yang akhirnya mengalah atau bersikap lebih lembut, artinya dia sudah memahami apa yang menjadi prioritas
dalam sebuah hubungan. Sebuah hubungan misalnya dalam hal ini sebuah pernikahan jauh lebih penting daripada
mencari tau siapa yang benar apakah itu ayam atau bebek. Entah sudah berapa sering kita merasa yakin dan
sangat percaya diri bahwa kita benar tapi belakangan kita sadar ternyata kita salah?
Siapa tau lho, mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: